7 Alasan Mengapa Saya Beralih ke Menstrual Cup

December 16, 2018

Cangkir menstruasi


Saya pertama kali tahu tentang menstrual cup atau cangkir menstruasi saat melihat kampanye Loon Cup di Kickstarter. Kira-kira seperti inilah reaksi saya saat melihatnya,

What? Corong kaya gini dimasukin ke vagina?
Masokis macam apa yang menemukan benda kaya gini?

Setelah membaca semua keterangan tentang Loon Cup di laman tersebut serta membaca laman Wikipedia tentang cangkir menstruasi, saya baru tahu kalau ternyata cangkir menstruasi terbuat dari silikon medical grade yang lentur, yang dapat dilipat sebelum dimasukkan ke vagina untuk menampung darah menstruasi.

Cara melipat menstrual cup
Sumber: Pinterest
Cangkir menstruasi ternyata sudah ditemukan pada tahun 1930-an. Pada tahun 1932, cangkir menstruasi yang berbentuk seperti corong ini dipatenkan dengan sebutan vaginal receptacle. Pada tahun 1970-an, Tassaway—sebuah perusahaan dari Amerika Serikat—meluncurkan cangkir menstruasi pertama mereka, sayangnya produk ini gagal di pasaran. Awalnya, cangkir menstruasi dibuat dari latex dan baru pada tahun 2001 cangkir menstruasi silikon pertama kali diperkenalkan oleh Mooncup.

Iklan cangkir menstruasi Tassaway
Sumber: mum.org

Alasan saya beralih ke cangkir menstruasi


Menstruasi selalu menjadi momok mengerikan bagi saya; pangkal paha dan bokong saya lecet dan perih, kram perut, sakit pinggang, jerawat, emosi susah dikendalikan dan nafsu makan yang, hhh, udah kaya babi—apa saja dimakan. Di antara yang lain, lecet-lecet lah yang membuat saya hampir tidak fungsional lagi karena duduk pun jadi enggak enak 😞
Sampai pada siklus menstruasi saya yang lalu, saya akhirnya berpikir “Bodo amat lah, pokoknya aku mau pakai cup aja.”

1. Nyaman
Awalnya saya tidak percaya bahwa memakai cangkir menstruasi akan terasa nyaman apalagi saat memakainya. Ternyata setelah membuktikannya sendiri, saya jadi tahu kalau memakai cangkir menstruasi itu seperti enggak pakai apa-apa. Vulva juga enggak terasa lembab-lembab gimana gitu, enggak seperti saat memakai pembalut.
Bahkan, kadang saya lupa kalau saya sedang mens.

2. Aman
Cangkir menstruasi terbuat dari silikon medical grade dan tentu saja tidak mengandung pemutih seperti halnya tampon dan pembalut. Perlu diketahui, pemutih (klorin) pada jumlah tertentu, pada sebagian orang akan menimbulkan iritasi dan gatal-gatal. Selain itu, bagi pemilik kulit sensitif seperti saya, dengan memakai cangkir menstruasi, saya tidak akan lagi muncul lecet-lecet akibat gesekan pembalut.

3. Irit
Harga sebuah menstrual cup di Indonesia adalah Rp 75.000 – Rp. 800.000. Kok mahal? Eits, tunggu dulu, jika dirawat dengan benar, cangkir menstruasi dapat bertahan selama 5-10 tahun.
Anggap saja pengeluaran per bulan untuk membeli pembalut adalah Rp 25.000, dalam setahun saya menghabiskan Rp 300.000. Pengeluaran untuk pembalut selama 5 tahun berarti Rp 1.500.000. Jika menggunakan cangkir menstruasi seharga Rp 500.000, dalam 5 tahun saya bisa berhemat Rp 1.000.000.

4. Anti bocor (tembus)
Saat cangkir menstruasi sudah dimasukkan ke vagina and sits safely up there, lipatan akan terbuka dan mulai menampung darah menstruasi. Cangkir menstruasi juga tidak akan bergeser atau terlepas. Bahkan saya tetap bisa berolahraga HIIT atau Freeletics Bodyweight tanpa khawatir tembus.

Fiuh...
5. Anti ribet
Cangkir menstruasi bisa menampung darah hingga 10-12 jam (untuk flow normal), jadi saya hanya harus mengosongkannya sekitar 2-3 kali sehari. Berbeda dengan pembalut yang harus saya ganti 3-5 kali sehari.
Saat mengosongkan cangkir menstruasi pun saya hanya perlu mengambilnya, membilas dengan air bersih atau wipes yang tidak mengandung alkohol dan pewangi atau saat mengosongkannya di rumah, saya bisa mencucinya dengan sabun yang mild.

6. Ramah lingkungan
Karena cangkir menstruasi bisa digunakan kembali berkali-kali, bahkan untuk 5-10 tahun, saya tidak perlu membeli banyak pembalut atau tampon sekali pakai yang sampahnya susah banget untuk diurai oleh alam.

7. Ringkas
Karena ukurannya yang kecil, cangkir menstruasi tidak banyak memakan tempat. Apalagi saat dibawa ketika traveling.

Saya juga mau dong beralih ke cangkir menstruasi


Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum kamu membeli cangkir menstruasi.

1. Ukuran
Biasanya, ukuran cangkir menstruasi ada 2, yaitu S dan L. Beberapa merk menyarankan memilih ukuran berdasarkan umur dan apakah pernah melahirkan per vaginam atau secara cesar. Ada juga merk yang bilang bahwa kedua hal tersebut tidak penting karena kekuatan otot pelvis tiap wanita berbeda.
Untuk saya pribadi, saya memilih dengan mengisi kuis ini.

2. Harga
Karena harganya juga tidak murah, sebaiknya sesuaikan dengan budget kamu. Akan tetapi, tetap pilih dengan bijak karena cup ini akan kamu gunakan di genitalia kamu.
Jika kamu kerasa cangkir menstruasi branded seperti Ruby cup, Lena cup, Yuuki, Moon cup, Diva cup, dll harganya terlalu mahal setelah masuk ke Indonesia, kamu bisa membelinya melalui jasa titip di situs seperti Airfrov.

3. Untuk kamu yang menggunakan IUD
Sebaiknya konsultasikan dengan dokter obsgyn dulu. Pastikan letak IUD kamu tidak bermasalah dan pastikan benang IUD kamu tidak terlalu panjang. Walaupun sangat jarang terjadi, saya pernah baca di forum online, ada wanita yang IUD-nya ikut terlepas saat dia melepaskan cangkir menstruasinya.
Saya sendiri menggunakan IUD dan cangkir menstruasi tanpa ada masalah.

Jadi gimana, kamu tertarik beralih ke cangkir menstruasi juga?


10 comments

  1. Dari dulu suka kesel pas lagi mens malah iritasi atau lecet gara-gara pembalut. Sempet baca juga review tentang menstrual cup tapi belum 'sreg' dan finally, setelah baca ini saya jadi makin tercerahkan. Thank you!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mbak :)
      Lecet karena pembalut itu nggak enak banget ya, perihnya ya ampun...
      Beralih ke menstrual cup adalah salah satu life-changing decision I ever made.

      Delete
  2. Thank you mbak infonya~
    Jadi lebih tercerahkan soal menstrual cup ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mbak :)
      Saya baru pakai menstrual cup 4 siklus menstruasi, tapi saking enaknya udah langsung berasa jadi menstrual cup evangelist hehehe

      Delete
  3. Seriusan aku baru tahu soal menstrual cup ini. Kok tertarik banget buat coba, ya? Soalnya selama ini aku beneran nggak nyaman pakai pembalut yang ada di pasaran. Ada beberapa pembalut yang nyaman banget tapi harganya mahal banget. Ini bisa dibeli di apotek di Indonesia nggak sih, Mbak? Biar bisa sekalian tanya-tanya gitu soal pemakaiannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di apotek setahuku belum ada, Mbak. Aku belinya di olshop di Tokopedia sih. Btw, kalau mau info lebih mendalam tentang menstrual cup beserta perbandingan dan review cup yang beredar di pasaran, Mbak bisa ke putacupinit.com - lengkappp banget pembahasannya.
      Btw, meninggalkan pembalut & memakai menstrual cup menurut saya merupakan life-changing experience lho :)

      Delete
  4. hai mbak,, salam kenal..
    udah tau lama tentang menstrual cup ini tapi memang belum pernah berani coba, soalnya ada beberapa kondisi yang membuat saya belum bisa beralih ke menstrual cup..
    padahal pengen banget nyoba, soalnya keliahatan lebih gampang dan gak ribet,,
    semoga nextnya bisa beralih ke menstrual cup..

    btw,, pas pake rasanya gimana mbak? semacam ada perasaan aneh atau gak gitu...hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Putri, salam kenal juga.
      Semoga next bisa beralih ya 😊

      Pas udah di dalam nggak berasa apa-apa mMba, kadang saya malah lupa kalau haid lho. Sampai saya kasih reminder di hp saya buat ngingetin ngosongin cup-nya.
      Berasanya pas masukin (ya iya lah) sama pas lipatannya kebuka, Mbak. Setelah kebuka & perfectly sits down there nggak kerasa sama sekali 😊

      Delete
  5. Aku udah sering dengar ttg ini, tapi baru benar-benar ngeh setalah baca tulisan mbk. Kok rada ngilu gitu ya dimasukin ke vagina, tapi kata mbak nyaman, bolehlah dicoba. Makasih sharingnya mbak. Salam, muthihauradotcom.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas masukinnya emang berasa, Mbak 😊 tapi begitu udah masuk & lipatannya kebuka, nggak berasa sama sekali. Nggak berasa kalau lagi pakai sesuatu lho.
      Dulu saya skeptis, Mbak. Begitu ngebuktiin sendiri baru ngeh, "Oh iya ya, ga berasa apa-apa." Hehe

      Sama-sama, Mbak. Semoga berguna. Salam kenal ya! 😊

      Delete