Cara Saya Mengatur Hidup (Review Buku The Bullet Journal Method oleh Ryder Carroll)

February 10, 2019

Review Buku The Bullet Journal Method Bahasa Indonesia


Astaga judulnya~

Coba deh kamu buka Instagram dan mencari tagar #bulletjournal, isinya jurnal-jurnal lucu, penuh warna-warni dengan berbagai macam lettering dan doodle yang sangat kawaii bagus. Karena saya orangnya kepenginan, pada bulan Mei 2018 yang lalu, saya pun membuat bullet journal saya sendiri. Bahkan, supaya totalitas, saya pun membuat notebook saya sendiri dengan metode coptic stitch.

Review Buku The Bullet Journal Method Bahasa Indonesia
 The Bullet Journal Method

Saya pertama kali membuat bullet journal (selanjutnya akan saya sebut sebagai bujo) berdasarkan video yang diunggah oleh pencetusnya, Ryder Carroll, di YouTube. Kemudian, saya mulai menghias bujo saya menggunakan berbagai macam ilustrasi bahkan dengan cat air agar tampak Instagrammable. Lama-kelamaan, saya jadi—meminjam istilah seorang Redditor—more decorating, less planning. Saya yang tadinya membuat bujo untuk membantu saya membangun habit yang baik, malah jadi merasa terbebani. Sampai pada akhirnya saya membaca buku ini.

Summary Buku The Bullet Journal Method


Ryder memiliki Attention Deficit Disorder (ADD) yang membuatnya sulit untuk fokus hanya pada satu hal saja. Perhatiannya sangat mudah teralihkan. Banyaknya kegiatan yang harus dia lakukan dan tanggungjawab yang dia miliki membuatnya merasa kewalahan. Dengan kondisi seperti itu, dia memutuskan untuk berubah. Dia mencari cara untuk membuat hidupnya lebih teratur. Setelah melalui banyak trial and error, akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan cara lama—menulis di buku catatan. Dia menemukan sebuah metode yang menggabungkan catatan, to-do list, diary dan planner. Dengan menggunakan metode ini, dia menjadi lebih fokus, produktif dan tidak lagi merasa kewalahan dengan berbagai tanggungjawabnya. Kemudian dia memperlihatkan buku catatannya ke beberapa teman dekatnya. Teman-temannya juga menganggap metode ini sangat membantu mereka. Mereka pun akhirnya menyuruh Ryder untuk membagikan metode ini ke semua orang. Kemudian Ryder membuat website dan sebuah video tutorial dan dalam waktu singkat, metode yang dia gunakan ini menjadi viral. Pada saat tulisan ini dibuat, sudah ada lebih dari 3 juta orang yang membagikan bujo mereka di Instagram dengan tagar #bulletjournal.

Sesuai dengan tagline-nya "Track your past, order your present, plan your future" sistem ini memudahkan kita untuk melihat masa lalu sebagai bahan refleksi diri; mengatur masa kini dengan membuat to-do list dan mencatat task serta ide-ide; dan merencanakan masa depan dengan menuliskan berbagai goal yang ingin dicapai, memecahnya menjadi beberapa task kecil yang mudah dilakukan. Lalu, bagaimana caranya?

Pertama, yang kamu butuhkan hanyalah pen dan buku. Buku tulis memiliki kelebihan daripada catatan digital, karena lebih fleksibel dan bebas dari distraksi. Ryder juga mengatakan bahwa tulisan tangan membuat kita lebih banyak menyerap informasi, memperkuat associative thinking dan membuat pikiran mejadi lebih tajam.

Kalau saya sih masih butuh penggaris, pensil dan penghapus, karena saya suka menulis huruf modern-serif untuk header bujo saya 😄 (teteup ya). Namun, di buku ini, Ryder berkali-kali menekankan bahwa bagian yang paling penting dari bujo adalah kontennya lho ya, bukan tampilannya. Selanjutnya, kamu perlu membuat bagian-bagian ini:

1. Index
Index ini semacam daftar isi, ditaruh di halaman paling awal bujo. Tujuannya untuk mempermudah menemukan konten atau catatan kamu. Jadi kamu perlu untuk memberi nomor di masing-masing halaman bujo kamu. Hanya halaman yang berisi konten saja yang perlu ditulisakan di index.

Bullet Journal Indonesia
Index Bujo pertama saya


2. Future Logs
Bentuknya seperti kalender. Fungsinya untuk menuliskan kegiatan dan events di bulan-bulan yang akan datang, misalnya hari ulang tahun, tanggal traveling, anniversary, acara meeting tahunan, dll. Future log ditaruh di bagian depan bujo.

3. Monthly Log
Fungsinya untuk menuliskan kegiatan, events ataupun task pada bulan tertentu. Jadi, monthly log ini nantinya akan seperti rangkuman apa yang kamu lakukan bulan ini.

Review buku The Bullet Journal Method Bahasa Indonesia
Monthly Log February 2019


4. Daily Log
Berisi task, events ataupun kegiatan kamu sehari-hari secara detail. Kamu juga bisa menuliskan catatan singkat di daily log ini.

Beautiful weekly spread
Aslinya dibikin setiap hari, bukan mingguan. Tapi saya lebih suka bikin tiap minggu.


5. Mental Inventory (Optional)
Pernah nggak kamu ingin melakukan banyak sekali hal, terus kamu bingung mana yang harus kamu lakukan terlebih dahulu dan pada akhirnya malah nggak ada yang kamu lakukan? Atau pernahkah kamu punya banyak ide tetapi bingung ide yang mana yang akan kamu wujudkan terlebih dahulu? Fungsi Mental Inventory adalah untuk menampung semua ide-ide kamu. Setelah kamu menuliskan semua ide kamu, kamu akan membaginya menjadi 3 bagian, yang sedang/sudah kamu lakukan, yang seharusnya kamu lakukan dan yang ingin kamu lakukan. Kemudian nilai ide-ide tersebut dengan bertanya kepada diri sendiri, pertama: Apakah ini berguna (memiliki value)? kedua: Apakah ini penting? Jika jawabannya tidak, coret dari daftar kamu.
Jika kamu memiliki goals yang besar, kamu sebaiknya membaginya menjadi beberapa tasks kecil yang mudah dilakukan (actionable).

6. Collection
Merupakan halaman khusus yang dibuat untuk membantu kamu mencapai tujuan kamu. Misalnya nih, tahun ini saya ingin sekali berhemat, jadi saya membuat halaman khusus untuk memonitor pengeluaran saya.
Menurut Ryder, buatlah koleksi yang berhubungan dan mendukung kamu mencapai tujuanmu. Kamu tidak perlu membuat halaman khusus untuk men-track serial TV yang kamu ikuti.

Bullet journal Indonesia
Bikin Expenses collection karena saya lagi mau berhemat.


Intentional living


Saat saya akan membaca buku ini, saya kira isinya hanya tentang tata cara bagaimana membuat bullet journal saja. Ho'oh, cuma segitu doang ekspektasi saya. Namun ternyata, isinya lebih dari yang saya harapkan. Buku ini juga membahas tentang pemikiran-pemikiran filosofis yang berkaitan dengan kebahagian, tujuan, intentional living, berbuat baik, dll. Bahkan, bahasannya juga dalem banget.

Ada satu bagian, saat Ryder membahas tentang kebahagian yang sangat nyantol di pikiran saya. Dia mengambil contoh dari salah satu serial TV lawas favorit saya yang dulu tayang di SyFy, The Twilight Zone episode "A Nice Place to Visit." Ceritanya ada seorang perampok bernama Valentine yang tewas ditembak oleh polisi saat perampok tersebut kabur. Dia terbangun di dunia lain. Di sana semua kemauannya terpenuhi, dia memiliki tempat tinggal yang bagus, bisa makan apa sajadilayani lagi, tidak pernah kalah saat berjudi, ditemani wanita-wanita cantik, dll. Valentine memiliki semua yang dia inginkan selama ini. Valentine pun yakin jika dia telah meninggal dan kini hidup di surga. Lama-lama hal-hal yang membuat Valentine bahagia ini menjadi tak berarti lagi. Dia mulai bosan. Dia pun meminta malaikat untuk dipindahkan ke tempat yang satunya lagi (neraka), "I don't think heaven is for me. I think I belong in the other place." Malaikat pun hanya tersenyum dan menjawab, "What makes you think this is heaven?"

Manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi—bahkan kepada hal yang membuat kita bahagia. Skincare Barang baru yang kita beli memang akan membuat kita bahagia. Akan tetapi, setelah beberapa saat, barang baru tersebut tidak akan membuat kita excited lagi. Pun demikian dengan kenaikan gaji, mobil baru, rumah baru, dll. Kita tidak merasa puas atas apa yang kita miliki. Kita pun membeli lebih banyak barang lagi, merasa butuh lebih banyak uang lagi hanya untuk merasa bahagia. Dia berpendapat bahwa di sinilah kita salah, kebahagiaan merupakan by-product dari apa yang kita perbuat, bukan sebaliknya.
If happiness is the result of our actions, then we need to stop asking ourselves how to be happy. Rather, we should asking ourselves how to be.
Di sini, Ryder tidak men-discourage orang untuk berkembang melainkan meng-encourage orang untuk fokus kepada hal yang benar-benar berarti (meaningful).
Maybe we have it all backward. It seems that in our pursuit of happiness, we're taking our focus off of what could be meaningful.
Di bagian "Radiance" dan "Inertia", Ryder mendorong kita untuk selalu melakukan hal-hal baik karena ini akan menginspirasi orang-orang di sekeliling kita. Di bab lain, Ryder juga membahas tentang betapa pentingnya gratitude, pentingnya mengapresiasi diri sendiri atas pencapaian-pencapaian yang telah kita lakukan. Ryder juga sedikit menyinggung tentang konsep ikigai dan kaizen.

My Two Cents


Saya suka dengan diksi Ryder. Bahasanya sangat mudah dipahami bahkan oleh saya yang bukan native speaker Bahasa Inggris, walaupun beberapa pilihan katanya seperti gallimaufry, flagellate, Eudaimonism, dll membuat saya berkali-kali membuka Merriam-Webster Dictionary (pro tip dari reddit: kalau ketemu kata asing, biar lebih cepat dimengerti, cari definisinya dulu, konteks pemakaiannya baru artinya di bahasa kita). Cara Ryder bercerita membuat saya senyum-senyum sendiri, tertawa, ngenes (saat Ryder bercerita tentang apartemennya yang 'kebanjiran') dan baper (saat Ryder bercerita tentang alasan mengapa mantannya selalu memasak makan malam mereka sendiri). Banyaknya referensi yang saya pahami (seperti The Twilight Zone) membuat saya sangat nyaman membaca buku ini.

Bahasan Ryder tentang personal growth-nya mengena banget dan tidak terkesan menggurui. Saya juga suka idenya tentang intentional living. Entah kalian tertarik atau tidak untuk membuat bujo kalian sendiri, menurut saya buku ini sangat recommended untuk dibaca. Bahkan kalau menurut saya pribadi, bab-bab tentang personal growth-nya lebih menarik ketimbang saat dia membahas tentang bujo-nya. Untuk yang sudah membuat bujo, dengan mebaca buku ini kalian bisa journaling dengan lebih efektif dan belajar bagaimana memaksimalkan bujo kalian.

Nilai: ★★★★★
_______________

Judul: The Bullet Journal Method
Penulis: Ryder Carroll
Jumlah halaman: 336 halaman
Bahasa: Inggris
ISBN: 9780525533337


14 comments

  1. kalo journalnya cantik rapi kayak gini, betah yg mau nulis ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting isinya, Mbak :)
      Itu saya kasih doodle & lettering simpel soalnya udah hobi saya, hehe

      Delete
  2. boulet jurnal ini kayak agenda gitu ya. entah kenapa saya dari dulu nggak pernah berhasil nulis di agenda begini. kurang kreatif dan tulisan tangan jelek banget jadinya malas. heu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mirip agenda tapi lebih dari itu, Mbak :) Ini semacam sistem campuran antara agenda, buku catatan & planner.
      Ryder Carroll (penulis buku ini & penemu sistem ini) bilang,\ yang penting kontennya mbak, bukan tampilannya. Enggak perlu dibikin bagus & dihias juga.
      Maaf ya kalau gambar-gambarnya bikin misleading, soalnya saya sekalian menyalurkan hobi menggambar :D
      Di postingan selanjutnya nanti saya baru akan membahas basic bujo secara mendalam.

      Btw thanks udah mampir, salam kenal :)

      Delete
  3. Mbak, telaten banget sih, rapi pula. Aku tuh mengumpulkan niat banget bikin BuJo, karen aku orangnya digital sekali hihihi.. Ada ga sih tips bujo yang dilakukan secara digital gitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya bikinnya sambil kerja Mbak, biar nggak bosen sama kerjaan, hehe...
      Ada komunitas bujo luar yang pakai Microsoft OneNote mbak. Ada tutorialnya juga di YouTube kok :) Ada juga yang pakai iPad Pro. Cuman si Ryder lebih menyarankan pakai sistem analog mbak (buku & pulpen) karena lebih distraction-free.

      Btw thanks banget udah mampir ya, salam kenal :)

      Delete
  4. kak, aku baca tulisannya seperti ada dot gitu ya, karena matanya abis terpana liat bujonyaa. baru mampir tapi suka ih sama penulisannya. saya jg lg menekuni tp desainny blm sebagus mbak nih.. salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sis, kertasnya ada dot-nya :)
      Gpp sis, desainnya dipikir belakangan aja. Yang paling penting adalah kontennya. Jangan sampai kelamaan di desain sampai jadi enggak fokus buat ngelakuin apa yang ditulis di bujo-nya. Saya dulu pernah gitu soalnya T__T
      Btw, maaf ya kalau gambarnya bikin misleading.

      Oia, makasih sudah mampir, salam kenal :)

      Delete
  5. Saya dari jaman kuliah lebih suka cara konvensional dalam bikin catatan: dibuku tulis. Pas mau ujian saya bikin mind map supaya lebih sistematis lagi... dan bener2 ngebantu saya dalam ujian heheh.

    boleh dicoba nih bikin bujo untuk sehari2... kayaknya asik hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah sama, saya juga suka bikin mind map Mbak tapi kalau lagi baca buku, hehe...
      Yuk coba bikin bujo bareng-bareng Mbak 😊

      Delete
  6. Wah Bujonya cantik-cantik mbaak.. hihi.. saya udah mulai kuwalahan kalo dideokarasi dulu.. ������. Cukup tulis2 sekarang. ����������

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu saya pakai gambar ribet & aneh-aneh Mbak. Sekarang gambar yang selesai dalam waktu ga lebih dari 5 menit per halaman, hehe...

      Delete
  7. wah suka banget nih nemu tulisan ini, saya jg suka nulis semua ide2 di buku tulis yg bisa dibawa kemana2 dengan teknik bujo gitu jd lbh bisa kreatif ye mbk.. makasih mbk tulisannya :}

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mbak 😊 Menulis di buku tulis juga membuat kita lebih mudah belajar & mengingat lho.

      Btw, salam kenal ya 😊

      Delete